Sabtu, 28 Februari 2009

KEPEMIMPINAN STRATEGIS DAN KEKUATAN SUMBER DAYA NON MATERIAL SEBAGAI UPAYA EFEKTIF DALAM MENGATASI TINGGINYA PREVALENSI ANEMIA PADA IBU HAMIL

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan di suatu negara. Kematian ibu dapat terjadi karena beberapa sebab, diantaranya karena anemia. Penelitian Chi, dkk menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu yang anemia dan 19,7% untuk mereka yang non anemia. Kematian ibu 15-20% secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan anemia. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu. Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992, bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi. Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600 juta manusia. Dengan frekuensi yang masih cukup tinggi, berkisar antara 10% dan 20% (Prawirohardjo,2002). Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-75%, serta semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Anemia defisiensi zat besi lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang berkembang daripada negara yang sudah maju. Tiga puluh enam persen (atau sekitar 1400 juta orang) dari perkiraan populasi 3800 juta orang di negara yang sedang berkembang menderita anemia jenis ini, sedangkan prevalensi di negara maju hanya sekitar 8% (atau kira-kira 100 juta orang) dari perkiraan populasi 1200 juta orang.

Di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 40,1% (SKRT 2001). Lautan J dkk (2001) melaporkan dari 31 orang wanita hamil pada trimester II didapati 23 (74%) menderita anemia, dan 13 (42%) menderita kekurangan besi. Mengingat besarnya dampak buruk dari anemia defisiensi zat besi pada wanita hamil dan janin, oleh karena itu perlu kiranya perhatian yang cukup terhadap masalah ini.

Di Indonesia, anemia bukan hanya rawan terjadi pada keluarga tidak mampu melainkan juga pada keluarga yang tergolong mampu dan ditemukan pada semua kelompok umur (Widia Karya Nasional Pangan dan Gizi IV, 1998).

.Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 1995) prevalensi anemia rata-rata Nasional pada ibu hamil adalah 51,3% dan anak balita sebesar 40,5% (Profil Kesehatan Indonesia, 1998 ). Prevalensi anemia yang tinggi ini memberikan berbagai dampak negatif seperti pada ibu hamil dapat meningkatkan morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) yang tinggi baik pada ibu maupun anak yang dilahirkan, pada pekerja atau buruh mengakibatkan produktifitas kerja menurun, pada remaja menyebabkan cepat lelah dan mudah mengantuk pada saat belajar sehingga konsentrasi belajar menurun, sedangkan pada anak balita mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasan terhambat. Dengan demikian konsekuensi fungsional dari Anemia gizi menyebabkan turunnya kualitas sumberdaya manusia secara keseluruhan (Scrimshaw).

Anemia berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia, karena kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak, kekurangan kadar Hb dalam darah menimbulkan gejala lesu, lemah, letih dan cepat lelah, akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar dan produktifitas kerja disamping itu penderita kurang zat besi akan menurunkan daya tahan tubuh yang mengakibatkan mudah terkena infeksi (DepKes RI Anemia gizi pada WUS, 2003).

B. PERMASALAHAN

Permasalahan yang ada adalah bahwa berdasarkan hasil survey prevalensi anemia rata-rata Nasional pada ibu hamil adalah 51,3% dan anak balita sebesar 40,5%. Prevalensi anemia yang tinggi ini memberikan berbagai dampak negatif seperti pada ibu hamil dapat meningkatkan morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) yang tinggi baik pada ibu maupun anak yang dilahirkan, pada pekerja atau buruh mengakibatkan produktifitas kerja menurun, pada remaja menyebabkan cepat lelah dan mudah mengantuk pada saat belajar sehingga konsentrasi belajar menurun, sedangkan pada anak balita mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasan terhambat. Dengan demikian konsekuensi fungsional dari Anemia gizi menyebabkan turunnya kualitas sumberdaya manusia secara keseluruhan (Scrimshaw). Hal ini disebabkan karena beberapa program yang tidak berjalan dengan baik.


BAB II DASAR-DASAR PENGERTIAN TENTANG KONSEP KEPEMIMPINAN STRATEGIS

A. BERPIKIR SISTEM (SYSTEM THINKING)

Berpikir sistem adalah cara melihat suatu kekuatan yang saling berhubungan dan menempatkannya dalam suatu konteks proses yang biasa terjadi. Terdapat berbagai bidang yang menggunakan cara berpikir sistem untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan tentang realitas, diantaranya sibernatika (cybernetics) teori kekacauan (chaos theory) dan berbagai dinamika yang ada pada suatu sistem.

Berfikir sistem juga sering disebut dengan cara berfikir generatif karena mampu melihat setiap kejadian tidak dari fenomena yang muncul ke permukaan, tetapi dari dinamika strukturnya yang paling dalam. Berfikir sistem merupakan sebuah disiplin untuk memahami kerumitan dan perubahan. Karena kemampuannya dalam memahami dinamika sistem, orang-orang dengan kemampuan berfikir ini juga biasanya berfikir cerdas membuat sebuah pengungkit sederhana, namun dengan efek ungkit yang demikian berarti. Indikatornya, ketika dihadapkan kepada sebuah masalah, orang-orang dengan kemampuan berfikir ini cenderung akan bertindak membuat solusi yang bersifat fundamental, bukan symtomatik.

Pada tingkat yang paling luas, berpikir sistem mencakup sekumpulan besar metode, alat dan prinsip yang agak tidak berbentuk, yang semuanya diorientasikan untuk melihat kesalingterkaitan antara kekuatan-kekuatan dan melihatnya sebagai bagian dari suatu proses bersama.

Untuk melaksanakannya, cara berfikir sistem menawarkan suatu bahasa (cara berfikir) yang dimulai dengan merestrukturisasi cara berfikir kita. Cara berfikir sistem itu sebagai lima disiplin karena konsep tersebut merupakan konsep dasar yang mendasari lima disiplin belajar.

I. SISTEM

Suatu sistem merupakan suatu keseluruhan yang dirasakan yang unsur-unsurnya ”tergantung bersama” karena unsur-unsur itu terus-menerus saling mempengaruhi dari waktu ke waktu dan beroperasi menuju suatu tujuan bersama.

II. STRUKTUR SISTEMIK

Struktur adalah pola hubungan yang saling terkait antar komponen-komponen utama dari sistem tersebut. Itu mungkin mencakup hierarki dan arus proses, namun juga mencakup sikap dan presepsi, mutu produk, cara-cara dimana keputusan dibuat, dan ratusan faktor lainnya.

Pendekatan System Thinking secara fundamental berbeda dengan bentuk-bentuk analisis tradisional. Analisis Tradisional berfokus pada pemisahan bagian-bagian yang dipelajari. System Thinking berfokus pada bagaimana sesuatu dipelajari interaksinya dengan bagian lain dari sistem- sekumpulan elemen yang berinterkasi menghasilkan perilaku. Ini berarti melakukan batasan terhadap sistem yang dipelajari, System Thinking berarti bekerja dengan memperluas pandangan kedalam perhitungan yang lebih luas dan jumlah interaksi yang lebih luas sebagai sebuah bidang yang diamati. Hasil ini kadang-kadang menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam kesimpulannya apabila dibandingkan dengan penyelesaian dengan bentuk-bentuk analisisi tradisional, khususnya ketika apa yang dipelajari merupakan kompleks secara dinamik atau memiliki tujuan besar dalam umpan balik dari sumber-sumber lain baik internal maupun eksternal.
Karakter system thinking yang membuat system thinking efektif secara ekstrim pada tipe-tipe permasalahan yang sulit untuk diselesaikan yaitu meliputi isu-isu yang kompleks yang tergantung pada tujuan-tujuan besar yang saling bergantung pada tindakan –tindakan yang lain baik masa lalu, dan hal tersebut berasal dari koordinasi yang tidak efektif dari elemen-elemen sistem.

Contoh dimana area system thinking telah terbukti nilai-nilainya :

¨ Permasalahan yang kompleks yang meliputi sejumlah aktor yang melihat lukisan besar dan bukannya bagian-bagiannya

¨ Permasalahan yang terjadi berulang-ulang atau permasalahan yang memiliki kesalahan karena usaha penyelesaian di masa lalu.

¨ Isu-isu dimana sebuah tindakan mempengaruhi atau dipengaruhi isu-isu lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan kompetitif.

¨ Permasalahan yang solusinya tidak cukup jelas.

Langkah-langkah yang dibatasi perspektif system thinking menciptakan kebutuhan pemahaman untuk solusi jangka panjang yang lebih baik. System Thinking memiliki kekuatan untuk menolong individu-individu untuk menciptakan wawasan sistem ketika sebuah solusi diaplikasikan untuk masalah-masalah yang berkelanjutan. Sejumlah permasalahan penting yang saat ini merupakan masalah-masalah yang kompleks yang meliputi sejumlah aktor dan hanya sejumlah kecil dari tindakan masa lalu yang dapat mengurangi permasalahan tersebut. Penyelesaian sejumlah problem terkenal kesulitannya dan hasil dari solusi konvensional sering tidak cukup untuk menciptakan keputusaan mengenai prospek efektifitas yang ditujukan terhadap masalah tersebut. Keuntungan kunci dari pendekatan system thinking adalah kemampuannya untuk menghadapi secara efektif tipe-tipe permasalahan dan meningkatkan pemikiran pada tingkatan dimana kita menciptakan hasil sebagaimana individu atau organisasi dalam menghadapi tanda-tanda situasi permasalahan yang sulit karena tingkat kompleksitas interaksi yang luas dan ketidakefektifan solusi nyata dengan segera.

III. Keuntungan System Thinking :

¨ Kemampuam untuk melihat pengaruh-pengaruh yang menguntungkan dalam kehidupan dengan melihat pola-pola yang menimbulkan sebuah peristiwa, yang berarti individu akan memiliki kemampuan mengendalikan kesehatan, pekerjaan, keuangan, dan sebuah hubungan. Individu akan memiliki kemampuan untuk memprediksi sebuah peristiwa dan mempersiapkan untuk menghadapinya .

¨ Memiliki jalan yang lebih efektif dalam berurusan dengan permasalahan, berpikir strategis yang lebih baik. Tidak hanya menyelesaikan masalah tetapi juga mampu untuk merubah pemikiran yang menyelesaikan masalah pada tahapan yang pertama.

¨ System Thinking merupakan sebuah basis untuk belajar lebih jelas dan berkomunikasi, sebuah langkah untuk melihat lebih banyak dan lebih jauh. Penjelasan yang jelas dan padangan mayoritas tidak selalu benar, dengan perspektif yang luas dan berbeda , dapat dilihat apa yang sebenarnya terjadi dan tindakan apa yang diambil yang lebih baik untuk jangka panjang

¨ System Thinking membantu untuk melihat kesalahan-kesalahan dengan lebih jelas. Kesalahan tertinggi adalah kesalahan tidak langsung, untuk individu biasanya melakukan yang terbaik bagi mereka dari sebuah sistem.

¨ System Thinking adalah metode untuk menolong individu untuk menngatur dirinya sendiri dan yang lain dengan lebih efektif. Pada Bisnis, System Thinking akan membantu dalam memahami kompleksitas proses juga dapat dilihat bagaimana langkah-langkah perbaikan. System Thinking juga membantu tim dan bangunan tim sebab tim bertindak sebagai sebuah sistem.

System Thinking diselesaikan dalam 4 jalan ( O’Connor,J., McDermott,I., 1997)

1. Untuk menyelesaikan masalah secara langsung, , dan tidak hanya menyelesaikan masalah tetapi mengeliminasi pikiran yang tertuju pada masalah pada tempat yang pertama. System Thinking tidak sekedar berpikir lateral, systim thinking adalah berpikir vertikal, horisontal, dalam dan berpikir sirkular.

2. Meragukan , menyelidiki dan mengklarifikasi cara berpikir yang biasa.

3. Mengapresiasi bagaimana manusia berpikir adalah tidak dapat dipisahkan dari masalah yang dihadapi. Masalah tidak sederhana. Permasalahan merupakan sebuah hasil kreasi dari peristiwa dan bagaimana kita berpikir tentang peristiwa tersebut. Kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam pada keyakinan dan tindakan dalam melakukan aplikasi system thinking dari sistem yang kita pikirkan karena keyakinan kita pada sistem itu sendiri.

IV.APA YANG BISA ANDA HARAPKAN …KETIKA ANDA MEMPRAKTIKKAN BERPIKIR SISTEM?

1. Tidak ada jawaban yang tepat

Karena dinamika sistem mengilustrasikan kasalingtergantungan dalam sistem terkini, maka tidak pernah ada sebuah jawaban tunggal yang tepat pada setiap pertanyaan. Sebaliknya, disiplin tersebut mengungkapkan beragam tindakan potensial yang bisa ambil : beberapa berpotensi tinggi dan beberapa berpotensi rendah. Seni berpikir sistem mencakup belajar untuk mengenali percabangan dan pertukaran tindakan yang Anda pilih.

2. Anda tidak akan mampu ”membagi gajah Anda menjadi sama besar”

Anda tidak bisa mendesain ulang sistem anda (”gajah”) dengan membaginya menjadi bagian-bagian, setiap orang harus melihat yang utuh secara bersama-sama. Jadi Anda tidak bisa mempraktikkan berpikir sistem sebagai seorang individu, bukan karena disiplin itu sendiri sulit, namun karena hasil-hasil baik dalam suatu sistem yang kompleks tergantung pada tindakan memasukkan perspektif sebanyak mungkin. Ketika anda menyatukan suatu tim, pastikan semua fungsi yang diperlukan terwakili, dan dapatkan izin dari manajemen puncak untuk mengajukan penyelesaian-penyelesaian lintas fungsional, tanpa memperhatikan kepekaan dan politik. Tidak ada area dalam organisasi yang terlarang atau terlindungi bagi orang-orang tertentu. Juga berusahalah untuk mencakup beragam gaya pembelajaran dalam tim tersebut.

Menurut sifatnya, berpikir sistem menunjuk kesalingtergantungan dan kebutuhan akan kolaborasi. Jadi ketika tim tersebut melanjutkan pekerjaannya, tim itu mungkin perlu memasukkan anggota-anggota baru, khususnya orang-orang yang pernah dipandang sebagai musuh, namun yang sekarang jelas adalah pemain pada sisi yang sama dalam permainan yang sama.

3. Sebab dan akibat tidak akan terkait erat dalam waktu dan ruang

Jangan mencari kekuatan di dekat gejala-gejala masalah anda. Pergilah ke hulu dan kembali tepat pada waktunya untuk menemukan akar penyebabnya. Seringkali, tindakan yang paling efektif adalah tindakan yang paling samar. Kadang-kadang, yang terbaik adalah tidak melakukan apa-apa, membiarkan sistem membuat koreksinya sendiri atau menuntun tindakan. Di lain waktu, kekuatan terbesar ditemukan dalam suatu sumber yang benar-benar tidak disangka-sangka.

4. Anda akan mendapatkan kue anda dan memakannya juga, namun tidak sekaligus.

Dalam mengajukan penyelesaian-penyelesaian sistem, pastikan anda memperhitungkan waktu tunda yang diperlukan. Misalnya, jika Anda mengajukan suatu ekspansi pegawai, berapa lama waktu yang akan diperlukan untuk melatih orang-orang baru? Berapa banyak pelatihan itu akan menghabiskan waktu staf anda yang sudah ada? Berkomitmenlah untuk terus menerus menyelidiki bagaimana sistem tersebut berjalan.

5. Jalan keluar termudah akan membawa kita masuk kembali.

Waspadalah terhadap penyelesaian yang paling mudah dan paling cepat. Sebagian besar orang lebih suka melakukan intervensi dalam suatu sistem pada tingkat peraturan, struktur fisik, proses kerja, material dan arus informasi, sistem penghargaan dan mekanisme kontrol dimana unsur-unsur tersebut lebih nyata dan memerlukan keahlian yang lebih rendah untuk tidak kasat mata, seperti sikap dan keyakinan mendalam orang-orang semakin dekat untuk melihat dasar-dasar alasan mengapa peraturan, struktur fisik dan proses kerja mempunyai bentuk seperti yang sekarang.

6. Perilaku akan menjadi lebih buruk sebelum membaik

Sering kali, ketika suatu upaya sistem membuat struktur-struktur yang mendasarinya menjadi lebih jelas, anggota-anggota kelompok mungkin mengalami masa-masa putus asa. Jay Forrester menyebut dinamika sistem sebagai ”ilmu sedih baru”, karena dinamika sistem menunjukkan kerapuhan pemahaman yang terbatas, dan masa lalu yang dapat salah, serta jaminan bahwa pemikiran hari ini akan menjadi sumber masalah di hari esok. Namun sebenarnya, berbagai hal akhirnya akan menjadi lebih baik. Orang-orang melihat masalah yang tadinya ”tidak dapat dibicarakan” muncul ke permukaan. Mereka menyadari betapa cara-cara berpikir mereka yang kuno dan mereka sukai selama ini telah mendatangklan masalah yang ada saat ini. Kesadaran baru mereka menguatkan harapan mereka untuk membawa perubahan yang efektif.

B. PEMBELAJARAN TIM (TEAM LEARNING)

Cara pembelajaran tim dikembangkan berdasarkan keempat disiplin lainnya dengan jalan memfasilitasi proses-proses dialog dan refleksi kelompok yang diperlukan untuk mengembangkan model pemikiran yang dapat diterima bersama.

Pembelajaran tim berkaitan dengan bagaimana tim secara bersama-sama memikirkan berbagai masalah komplek yang mereka hadapi serta bagaimana mereka dapat menciptakan sesuatu yang benar-benar ingin mereka ciptakan.

Untuk mempraktekkan pembelajaran tim : anggota-anggota tim perlu menguasai dua cara yang berbeda dalam berkomunikasi yaitu dengan mempraktekkan dialog dan diskusi.

1. Dialog

Dalam dialog terjadi penggalian yang kreatif dan bebas tentang masalah-masalah yang komplek dan terselubung, suatu kegiatan dimana masing-masing pihak berusaha untuk saling mendengarkan dan menahan diri utnuk selalu mengemukakan pendapatnya sendiri.

Menurut ahli fisika David Bohm, diperlukan tiga kondisi agar terjadi suatu dialog yang efektif :

  1. Semua peserta harus menahan asumsi-asumsi mereka - secara harfiah menahan untuk menunda apa yang akan dikemukakannya kepada kita.
  2. Semua peserta harus saling menerima peserta lainnya sebagai kolega.
  3. Harus ada seorang fasilitator yang mengendalikan dialog agar tetap pada konteksnya.

2. Diskusi

Dalam suatu diskusi berbagai pendapat dikemukakan dan dipertahankan, dalam hal ini mungkin berfungsi sebagai pemberi bahan analisis yang berguna bagi suasana diskusi secara kesuluruhan. Didalam dialog berbagai pendapat dikemukakan terhadap suatu pandangan yang baru atau pemahaman bersama. Dalam diskusi dibuat keputusan.

Dialog dan diskusi secara potensial bersifat saling melengkapi, sayangnya kebanyakan tim kurang mempunyai kemampuan untuk membedakan antara kedu- anya untuk kemudian secara sadar memanfaatkannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

C. STRATEGI UNTUK MENGEMBANGKAN KEAHLIAN PRIBADI (PERSONAL MASTERY)

Tidak seorang pun bisa meningkatkan keahlian pribadi orang lain. Kita hanya bisa menciptakan kondisi-kondisi yang mendorong dan mendukung orang-orang yang ingin meningkatkan keahlian mereka sendiri. Jika pembelajaran dikaitkan dengan visi seseorang, maka orang itu akan melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk mempertahankan agar pembelajaran terus berlangsung.

I. KEAHLIAN

Keahlian berarti kepasitas tidak hanya untuk memproduksi hasil, namun juga menguasai prinsip-prinsip yang mendasari cara Anda memproduksi hasil. Jika seseorang bisa menciptakan karya besar hanya dengan perjuangan yang terus menerus, kita tidak akan menyebutnya ahli. Dalam keahlian, ada suatu rasa tanpa usaha keras dan sukacita. Kata ini berasal dari kemampuan dan kesediaan Anda untuk memahami dan bekerja dengan kekuatan-kekuatan di sekitar anda

II. SUATU PERCAKAPAN DALAM DIRI ANDA

Praktik utama keahlian pribadi mencakup belajar untuk mempertahankan visi pribadi dan gambaran yang jelas tentang realitas saat ini yang ada di hadapan kita. Melakukan hal ini akan membangkitkan suatu kekuatan dalam diri kita sendiri yang disebut ”ketegangan kreatif”. Ketegangan menurut naturnya, memerlukan penyelesaian, dan sebagian besar penyelesaian alami dari ketegangan ini adalah dengan mendekatkan realitas kita dengan apa yang kita inginkan. Hal itu seakan-akan kita telah memasang pita karet antar kedua kutub, visi kita dan realitas saat ini.

Akhirnya, keahlian pribadi mengajar kita untuk memilih. Memilih adalah suatu tindakan yang berani, memilih hasil dan tindakan yang akan Anda lakukan dan memasukkannya ke dalam nasib Anda.

Mempraktikan keahlian pribadi adalah menyerupai mengadakan suatu percakapan dalam diri kita sendiri. Di dalam diri kita ada sesuatu yang menyuarakan impian-impian tentang apa yang kita inginkan pada masa yang akan datang.

III. PEMIMPIN SEBAGAI PELATIH

Pemimpin mempunyai tanggung jawab untu mengejar keahlian pribadi, ” kata Alain Gauthier, ”bukan hanya demi kepentingan dirinya sendiri, melainkan demi setiap orang dalam organisasi. Jika pemimpin tersebut tidak mempunyai suatu tingkat pengetahuan diri sendiri, dan pemahaman diri sendiri, ada resiko bahwa ia mungkin menggunakan organisasi untuk mengatasi rasa sakit saraf mereka sendiri. Hal ini bisa mempunyai suatu dampak yang luar biasa terhadap diri orang lain.

IV.APA YANG BISA ANDA HARAPKAN DARI PRAKTIK KEAHLIAN PRIBADI

1. APAKAH ANDA DAN ORGANISASI ANDA SIAP UNTUK HAL INI?

Bayangkan suatu organisasi yang penuh dengan orang-orang yang datang untuk bekerja dengan antusias, tahu bahwa mereka akan berkembang dan maju, dan bermaksud untuk memenuhi visi dan sasaran perusahaan yang lebih besar. Ada suatu kemudahan, keanggunan, dan tidak ada kesulitan dalam pelaksanaan berbagai hal. Pekerjaan mengalir tanpa rintangan antar tim dan fungsi. Orang-orang merasa senang dan bangga dalam setiap aspek perusahaan, misalnya, dalam cara mereka berbicara secara terbuka, saling merenungkan opini satu sama lain, dan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap struktur-struktur di sekitar mereka. Ada banyak energi yang memasuki organisasi ini setiap hari, yang menyelesaikan pekerjaan yang jumlahnya semakin meningkat dan mengalami kesenagan dalam bekerja.

2. MENGANCAM EMOSI DENGAN PENUH HORMAT

Bekerja dengan keahlian pribadi berarti memasuki dunia masalah hati. Mengembangkan suatu visi pribadi berarti membuka jalan menuju sumur pengharapan dan aspirasi, termasuk kerinduan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, dan hasrat untuk mempunyai suatu kehidupan yang penuh kebahagiaan.

3. BERINVESTASI DALAM KEAHLIAN PRIBADI

Untuk menyediakan kondisi dimana individu-individu bisa mengembangkan kapasitas mereka untuk menciptakan apa yang mereka pedulikan, organisasi-organisasi harus menginvestasikan waktu, tenaga dan uang jauh melebihi apa yang dipandang cukup oleh sebagian besar manajer masa kini.

4. MEMIKIRKAN KEMBALI MODEL-MODEL MOTIVASI TRADISIONAL

Para manajer sering kali berpaling kepada keahlian pribadi karena mereka bosan dengan bentuk-bentuk motivasi tradisional. Beberapa telah bergantung pada penghargaan dan penghukuman ”wortel dan tongkat” (pertama-tama menawarkan imbalan namun lama-lama memberikan ancaman). Para manajer yang lain telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan menggunakan rasa takut dan putus asa (”the doom and gloom talk”) untuk memotivasi orang. Mereka selalu mempunyai sedikit kabar buruk untuk disampaikan, tentang sulitnya lingkungan di sekitar mereka dan serigala-serigala di depan pintu. Orang-orang benar-benar memberi respon terhadap insentif dalam jangka pendek dan mereka mungkin memberikan respon terhadap masa-masa yang sulit dengan lebih sungguh-sungguh, menarik bersama dengan upaya ekstra, mereka menyadari bahwa insentif-insentif ini ditujukan untuk memanipulasi mereka, maka mereka akan berhenti di jalur mereka.

Mengapa hal ini tidak berhasil? Karena suatu upaya keahlian pribadi tergantung pada penyingkiran asumsi-asumsi bahwa orang-orang paling termotivasi bahwa dalam atmosfir yang tepat, orang-orang akan berkontribusi dan membuat komitmen karena mereka ingin belajar, melakukan pekerjaan yang baik demi pekerjaan itu sendiri dan diakui sebagai manusia. Sikap ini mungkin sulit diubah. Salah satu pendekatannya adalah dengan memulai suatu upaya visi karyawan Anda untuk menceritakan kepada Anda apa tepatnya yang akan dikontribusikan oleh upaya-upaya keahlian pribadi kepada evolusi seluruh organisasi.

D. MODEL MENTAL (MENTAL MODELS)

Model mental adalah suatu prinsip yang mendasar dari Organisasi Pembelajar, karena dengannya organisasi dan individu yang ada di dalamnya diperkenankan untuk berpikir dan merefleksikan struktur dan arahan (perintah) dalam organisasi dan juga dari dunia luar selain organisasinya. Senge menyebutkan bahwa model mental adalah suatu aktivitas perenungan, terus menerus mengklarifikasikan, dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia, dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita. Model mental terkait dengan bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan bagaimana dia melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi. Model mental merupakan suatu pembuatan peta atau model kerangka kerja dalam setiap individu untuk melihat bagaimana melakukan pendekatan terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan kata lain, model mental bisa dikatakan sebagai konsep diri seseorang, yang dengan konsep diri tersebut dia akan mengambil keputusan terbaiknya.

Model-model mental merupakan gambaran, asumsi dan kisah yang kita bawa dalam benak kita tentang diri kita sendiri, orang lain, lembaga-lembaga, dan setiap aspek dari dunia ini.

Mental Model dapat merupakan penggeneralisasi yang sederhana (orang yang tidak sehat adalah orang miskin) ataupun teori-teori yang komplek (kebijaksanaan-kebijaksanaan penyesuaian struktural dari IMF) yang menyebabkan negara-negara terus menjadi buruk. Pada kedua kasus diatas mental model menyebabkan kita melakukan tindakan dengan cara tertentu. Mengapa mental model mempengaruhi apa yang kita kerjakan? Karena mental model mempengaruhi apa yang kita lihat. Dua orang dengan mental model yang berbeda mengamati kejadian yang sama akan menguraikannya secara berbeda karena mereka melihat detail yang berlainan.

Masalah-masalah yang dihadapi dengan mental model bukanlah apakah mental model itu benar atau salah, karena semua mental model merupakan penyederhanaan, tetapi apakah mereka dikenal pada waktu mereka ada.

E. STRATEGI-STRATEGI UNTUK MEMBANGUN VISI BERSAMA (SHARE VISION)

Inti dari pembangunan visi bersama adalah tugas mendesain dan mengembangkan proses-proses yang berkelanjutan di mana orang-orang pada setiap tingkat organisasi, dalam setiap peran, bisa berbicara dari hati tentang apa yang benar-benar penting bagi mereka dan didengarkan oleh manajemen senior dan satu sama lain. Mutu proses ini, khususnya jumlah keterbukaan dan perhatian yang tulus, menentukan mutu dan kekuatan hasilnya. Itulah sebabnya mengapa, dalam bagian ini, Anda akan menemukan sangat sedikit materi tentang isi yang tepat dalam tujuan suatu organisasi

F. TEORI HAMBATAN (THEORY OF CONTRAINS)

Teori kambatan dari Eliyahu Goldratt merupakan suatu falsafah perbaikan system. Goldratt seperti Senge berpendapat bahwa organisasi hidup atau mati sebagai sistem dan bukan sebagai proses. Seperti juga Senge, Goldratt melihat gagasan mengisolasi daya ungkit pada masalah-masalah tertentu sebagai cara yang efektif untuk memecahkan masalah tanpa memboroskan terlalu banyak sumber. Selangkah lebih jauh ia mengatakan bahwa sistem adalah seperti mata rantai yang saling bergantung dimana perbaikan terhadap mata rantai yang terlemah akan menghasilkan perbaikan sistem.

I. LIMA LANGKAH TEORI HAMBATAN :

  1. Identifikasikan hambatan sistem : Bagian mana dari sistem yang merupakan mata rantai terlemah? Apakah kelemahan itu bersifat fisik atau kebijaksanaan?
  2. Tentukan bagaimana menggarap hambatan itu dengan menggarap yang dimaksudkan adalah kita harus memeras setiap bagian dari kemampuan untuk keluar dari komponen penghambat sebagaimana yang ada saat ini.
  3. Delegasikan segala sesuatu kepada bawahan lainnya. Sekali hambatan itu sudah teridentifikasi (langkah 1) dan kita telah menetapkan apa yang perlu dilakukan (langkah 2), maka kita sesuaikan sisa dari bagian sistem lainnya pada suatu perangkat yang akan memungkinkan hambatan itu beroperasi pada tingkat efektifitas maksimalnya. Kita mungkin perlu untuk mengabaikan beberapa bagian dari sistem sementara menghidupkan beberapa yang lainnya. Apabila kita telah melakukan ini, kita harus mengevaluasi hasil-hasil dari tindakan kita : apakah hambatan itu masih menghambat penampilan sistem? Apabila tidak, maka kita telah menghilangkan hambatan itu dan kita lanjutkan ke langkah 5. Apabila hambatan itu masih menghambat, berarti kita masih mempunyai hambatan dan kita lanjutkan dengan langkah 4.
  4. Angkatlah hambatan itu : Bila kita lakukan ini maka ini berarti bahwa langkah kedua dan langkah ketiga tidak cukuo untuk menghilangkan hambatan dan kita harus melakukan sesuatu yang lebih. Sebelum sampai pada langkah ini kita tidak dapat bersenang diri dengan berpendapat bahwa terjadi perubahan besar-besaran terhadap sistem yang ada, reorganisasi, pembebasan, penambahan modal atau perubahan-perubahan sistem secara substansial. Langkah ini dapat mencakup investasi yang besar dalam waktu, uang, energi atau masukan-masukan lainnya.


BAB III PEMBAHASAN TENTANG URGENSI, PERAN DAN MANFAAT DARI KEPEMIMPINAN STRATEGIS SEBAGAI UPAYA EFEKTIF MENGATASI MASALAH ANEMIA


A. BERPIKIR SISTEM DALAM MENGATASI PREVALENSI ANEMIA YANG TINGGI PADA IBU HAMIL

Hukum pertama dalam Sistem Thinking and Learning Organization menurut Peter Senge, menyebutkan bahwa masalah hari ini adalah akibat sukses masa lalu dan sukses masa kini merupakan masalah pada masa yang akan datang. Melihat masalah secara terpisah ibarat membelah gajah menjadi dua tidak akan akan melahirkan dua gajah kecil.

Pemerintah sudah berusaha keras, yaitu pada tahun 2003, kita mempunyai 1234 RS dengan sekitar 50 % nya milik pemerintah, 7413 Puskesmas, 21762 puskesmas pembantu. Dalam tahun 2005, dari kira-kira 65 juta orang yang berobat jalan sekitar 30 juta orang berobat jalan di fasilitas kesehatan pemerintah. Setiap 1bu hamil diperiksa minimal 4 kali, dan mendapatkan pil tambah darah 90 tablet. Dalam tahun yang sama hal itu berarti sekitar 8,5 juta ibu hamil diperiksa, dan mendapat pil tambah darah. Dan sekarang ini masih mempunyai 242,221 ribu posyandu, 25,723 polindes, dan 11,032 pos obat desa. Berbagai keberhasilan pemerintah dalam mengorganisir berbagai pelayanan kesehatan, gizi dan keluarga berencana, menyebabkan Indonesia mendapat pujian dan dikunjungi berbagai negara untuk ditiru.

Namun, disamping keberhasilan itu, rasanya ada beberapa hal yang perlu direnungkan. Sesudah puluhan tahun kita bekerja keras, beberapa indikator kesehatan menunjukkan kemajuan, seperti menurunnya angka kematian bayi dan membaiknya angka harapan hidup, namun beberapa indikator yang lain menunjukkan kondisi kesehatan kita seperti tidak banyak berubah. Tepatnya, hasil yang kita dapatkan tidak sebanding dengan besarnya usaha yang kita lakukan.

Angka anemia ibu hamil tetap saja tinggi, meskipun jutaan ibu hamil sudah diperiksa, dan jutaan juga mendapatkan 90 pil tambah darah. Mengapa? Masalah kurang gizi pada bayi, balita, anak-anak telah banyak diteliti, dan bahkan di Indonesia ratusan S2, dan puluhan S3 telah dihasilkan. Flowchart yang berisi sebab musabab gangguan gizi, baik langsung, tidak langsung, pokok masalah, dan penyebab dasar sudah diketahui. Puluhan program telah pula diluncurkan, mulai dari UPGK, SKPG, PSG, PMT, MP ASI dengan biaya yang tidak sedikit. Namun masalah gizi tetap menghiasi masalah kesehatan utama kita selama bertahun-tahun. Mengapa?

Banyak kalangan kesehatan sendiri sering kali salah mengira, status kesehatan adalah hasil performans dari sektor kesehatan. Padahal banyak sudah ditulis orang saling hubungan antara kesehatan dengan banyak faktor lain. Petikan berikut ini menjelaskannya secara sederhana.

"Why is Jason in the hospital?

Because he has a bad infection in his leg.

But why does he have an infection?

Because he has a cut on his leg and it got infected. But why does he have a cut on his leg?

Because he was playing in the junk yard next to his apartment building and there was some sharp, jagged steel there that he fell on.

But why was he playing in a junk yard?

Because his neighborhood is kind of run down. A lot of kids play there and there is no one to supervise them.

But why does he live in that neighborhood?

Because his parents can't afford a nicer place to live.

But why can't his parents afford a nicer place to live?

Because his Dad is unemployed and his Mom is sick.

But why is his Dad unemployed?

Because he doesn't have much education and he can't find a job.

But why ...?"

Dalam bahasa sistem, kesehatan adalah faktor endogen, interaksi dari faktor ipoleksosbudhamkamnas, sekaligus pada saat yang sama, kesehatan adalah eksogen untuk faktor yang sama. Agar pembangunan berhasil, kita memerlukan SDM yang sehat, yang berasal dari keluarga sehat, dan komunitas yang suportif (Junadi, 2005, hal 11-15). Artinya untuk berkembang, kita tidak bisa melakukan pembangunan sektoral yang terpisah. Banjir, polusi udara, pencemaran sungai dan laut adalah akibat pembangunan sektoral terpisah yang menyebabkan rentetan penyakit diare, leptospirosis, batuk pilek, jantung, sindrom Minamata dstnya. Rusaknya habitat unggas liar ikut berdampak dalam periode awal penyebaran penyakit flu burung. Orang bisa mengatakan, itu adalah biaya yang harus kita bayar, yang memang terjadi dimana-mana karena kita membangun. Benarkah harga yang harus kita tanggung semahal itu? Jika kita memasukkan komponen kesehatan dalam sistem, ketika pembangunan dirancang dan disetujui, apakah dampak lingkungan dan kesehatannya bisa jauh berkurang?

Illich (1976), yang melakukan penelitian ekstensif dan mendalam, mengatakan bahwa pelayanan medis tidak pernah berhubungan bermakna dengan menurunnya angka kesakitan maupun meningkatkan angka harapan hidup. Rasio dokter, maupun rasio jumlah tempat tidur di rumah sakit bukan faktor penyebab berubahnya pola penyakit. Sebesar 90% angka kematian penyakit menular seperti scarlet fever, difteria, batuk rejan dan campak pada anak di dunia menurun, bukan karena ditemukannya anbtibiotik dan penggunaan imunisasi, tetapi terutama karena perbaikan gizi. Tehnik kedokteran modern, seperti kontrasepsi, imunisasi baru menjadi efektif ketika kewenangan penggunaannya didelegasikan ke tenaga kesehatan lain yang lebih murah dan lebih tersebar di penduduk. Ia memperingatkan, bahwa kehidupan kita sudah menjadi tergantung pada kedokteran modern, yang alih-alih menyehatkan, ia malahan menjadi ancaman bagi kesehatan, hal yang ia sebut sebagai iatrogenesis.

Sudah waktunya kita memikir ulang dalam membangun jalan menuju sehat. Desentralisasi kewenangan tenaga medis yang sedikit ke tenaga kesehatan yang jauh lebih besar jumlahnya adalah salah satu caranya .

Terlebih dulu, kita perlu memahami Lanscape Indonesia yang khaotik. Kita perlu menyadari bahwa Indonesia yang kita tinggali adalah sebuah negara dengan 17 ribu pulau yang secara ekologi bersifat mega diversity. Tidak banyak negara dengan keanekaragaman ekologinya seluas Indonesia. Oleh karena itu jalan-jalan umum untuk kesejahteraan masyarakat haruslah dibangun atas sifat keaneka ragaman, bukan keseragaman. Desentralisasi pemerintahan, termasuk didalamnya desentralisasi kesehatan adalah jalan yang cerdas. Kebijakan mono kultur beras, adalah jalan yang tidak cerdas untuk mengatasi kekurangan pangan (gizi) di negara kita. Walau Teknologi perberasan kita sudah yang paling produktif dan terefisien di Asia Tenggara, namun karena 62 % penduduk sekarang makan padi-padian tetap saja kita akan kekurangan pangan. Padahal, kalau, kita masukkan jagung, singkong dan umbi-umbian sebagai pangan setara beras, dan mereka yang makan bukan beras juga dihormati setara pemakan beras, maka kita sampai sekarang tidak akan kekurangan pangan. Jalan cerdas untuk mengatasi kekurangan gizi di masa depan, tidak lain adalah diversifikasi pangan.

Kita perlu memperhatikan beberapa Driving Forces yang mengubah wajah dunia. Petama, adalah desakan pertambahan penduduk, terutama penduduk perkotaan, yang mengalahkan kemampuan perencanaan berbagai negara. Tahun 2007 ini untuk pertama kalinya penduduk perkotaan sama banyaknya dengan penduduk pedesaan. Pada tahun 2030, penduduk perkotaan akan berjumlah 5 milyard dan merupakan 61 % dari penduduk dunia. Di Indonesia dalam tahun 2025 diperkirakan 60 % penduduk tinggal di perkotaan, yang akan menimbulkan 1 juta hektar perubahan lahan (Santoso, 2006, hal 48). Naiknya jumlah penduduk ini akan berdampak pada aspek kesehatan melalui interaksi antara perubahan struktur umur, rasio ketergantungan penduduk, berkurangnya lahan pertanian, dan pertumbuhan kota-kota—maupun perubahan desa manjadi kota—yang tidak terencana.

Pada umumnya, tidak ada jalan pintas dalam menangani masalah gizi. Karena sesuai hukum sistem faster is slower (Senge, 1990). Contohnya anemia ibu hamil, tetapi analoginya bisa dipakai untuk masalah kesehatan lain. Untuk menanggulangi anemia ibu hamil, bertahun-tahun pemerintah memberikan pil tambah darah gratis 1 kali sehari sebanyak 90 tablet untuk semua ibu hamil. Anemia ibu hamil tidak terjadi seketika, ia adalah akibat selama bertahun-tahun kita melalaikan—dalam banyak hal, tidak mampu—kewajiban keluarga untuk mengusahakan makanan yang cukup gizi. Artinya anemia ibu hamil, bermula dari anemia dari wanita ketika belum hamil, bahkan anemia ketika remaja. Jadi penanggulangan anemia ibu hamil ketika hamil tidak akan efektif (Junadi, 1995). Anemia ibu hamil, harus ditangani ketika belum hamil. Halnya sama dengan masalah gizi buruk pada bayi. Penanggulangannya harus dimulai jauh sebelum peristiwa melahirkan, yaitu ketika ibu mulai hamil, atau mungkin dimulai ketika pasangan itu menikah. Demikian juga menanggulangi gangguan pertumbuhan. Atmawikarta (2007, hal 147-148) menemukan bahwa memberikan makanan pendamping ASI tidak efektif untuk menanggulangi gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, penanganan gangguan menggunakan daur kehidupan, terintegrasikan dalam penanggulangan kemiskinan dan peningkatan daya beli.

Kita harus berubah, dalam cara kita menangani masalah, dan terutama dalam cara memandang masalah. Persoalannya, banyak orang tahu, tetapi mengapa tidak menyadarinya? Banyak orang menyadarinya, tetapi mengapa tidak melakukan perubahan?

Kita tetap memberikan tablet Fe kepada ibu hamil yang anemia bertahun-tahun dengan cara yang sama, bahkan makin lama dengan anggaran yang makin besar, dan masalah gizi tetap saja muncul (Susenas 1989-2005). Dampaknya kita seperti menangani perang yang tidak pernah bisa kita menangkan, dan puas menangani korban, dalam bentuk kepanikan setiap peralihan musim menganani pasien DBD dan diare. Mengapa kita seperti mencari kunci hilang ditempat terang?

Menurut Purnawan Junadi mungkin ada beberapa penjelasan. Homer-Dixon (2000) mengatakannya kita menghadapi the Ingenuity Gap, yaitu bahwa bertubi-tubinya persoalan yang kita hadapi, yang makin kompleks, makin sulit diramalkan, makin cepat siklusnya rupanya kurang dapat diimbangi dengan kecepatan kita menyediakan ingenuity untuk mengatasinya. Mengapa business as usual? kita terlena bertahun-tahun, karena semua perubahan itu pada awalnya terjadi secara-perlahan-lahan, dan kita baru menyadarinya setelah terlambat melakukan perubahan. Senge (1990), menyebutkannya sebagai The parable of the boiled frog . Konsep yang sama juga bisa diterapkan untuk menggambarkan perubahan ke arah negatif. Dalam sistem, banyak perubahan negatif yg juga berlangsung sangat gradual. Terjadi degradasi yang sangat pelan dan pelan sehingga kita sebagai pelaku di dalam sistem itu tidak menyadari atau -setidaknya- merasakan namun mengacuhkan karena degradasinya dianggap tidak signifikan -dalam jangka pendek.

The parable of the boiled frog atau Teknik Merebus Katak

Konsep teknik merebus katak sangat erat kaitannya dengan change management. Cerita dari buku the Fifth Discipline, Peter Senge. Kuncinya adalah perubahan yg sangat gradual dan tidak disadari.

Mengacu pada konsep di atas, sebagai seorang tenaga kesehatan, bisa menerapkan proses perbaikan yg gradual dalam sistemnya untuk mengurangi resistansi dari sistem. Kaizen atau inovasi tiada henti adalah filsafat jepang yg sangat cocok dengan teknik merebus katak. Dengan perubahan yg gradual, maka sistem akan memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri sehingga perubahan yg diinginkan bisa dilakukan.

Editorial Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Nomor 1 , volume 01 2004 mengangkat tema “ Belajar berubah atau mati” sebuah wacana adaptasi lingkungan yang berubah cepat (Dahlan, DM, 2004). Pada bagian akhir editorial ini dijelaskan bahwa pada akhirnya kulturlah yang digunakan masyarakat untuk memecahkan masalahnya dan kuncinya adalah kemampuan untuk berfikir dalam pola pikir masa depan. Wacana ini sebenarnya telah lama dipikirkan oleh Charles Darwin dalam bukunya “Survival of the Fittes” Bahwa kekuatan bukan jaminan untuk dapat bertahan hidup tetapi kemampuan beradaptasilah yang membuat kita survive. Hilangnya dinosaurus pada berjuta tahun lalu bukan karena mahluk ini lemah tetapi karena mahluk ini tidak dapat beradaptasi.

B. PEMBELAJARAN TIM (TIM LEARNING) DALAM MENGATASI PREVALENSI ANEMIA YANG TINGGI PADA IBU HAMIL

Pembelajaran tim dalam mengatasi prevalensi anemia yang tinggi pada ibu hamil di suatu daerah dapat dilakukan dengan dialog dan diskusi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan baik RS pemerintah maupun swasta dan puskesmas, tokoh masyarakat, kader posyandu, lintas sektoral, lembaga swadaya masyarakat, dll.

Cara ini dilakukan agar program pemerintah yang sudah dibuat dapat dilaksanakan dengan baik dan memberikan manfaat yang bisa dirasakan oleh semua golongan masyarakat. Contohnya program pemerintah, setiap ibu hamil diperiksa minimal 4 kali dan mendapatkan pil tambah darah 90 tablet, tapi program tersebut belum memberikan dampak positif pada penurunan prevalensi anemia pada ibu hamil. Dan program pemerintah lainnya mulai dari UPGK, SKPG, PSG, PMT, MP ASI dll. Dengan pembelajaran tim, antara pemerintah dan masyarakat harus dapat bekerja dan belajar bersama untuk mewujudkan share vision dan melaksanakan strategi untuk menurunkan prevalensi anemia pada ibu hamil.

Selain untuk mempersiapkan strategi berjalannya program, pembelajaran tim juga dapat dijadikan tempat komunikasi untuk saling memberikan masukan antara masyarakat dengan pemerintah. Sehingga pemerintah mempunyai komitmen yang kuat terhadap program gizi, termasuk memberikan masukan adanya intervensi yang lebih baik selain dari pertumbuhan ekonomi dan memerangi kemiskinan dalam mengatasi masalah gizi.

Pembelajaran tim mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga. Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan. Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau kita tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, kita belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati, inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ''Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya, Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ''kecepatan cahaya''.

C. STRATEGI UNTUK MENGEMBANGKAN KEAHLIAN PRIBADI (PERSONAL MASTERY) DALAM MENGATASI PREVALENSI ANEMIA YANG TINGGI PADA IBU HAMIL

Keahlian pribadi adalah suatu budaya dan norma lembaga yang terdapat dalam organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam organisasi untuk bertindak dan melihat dirinya. Keahlian pribadi merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukkan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Penguasaan pribadi juga merupakan kegiatan belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita untuk menciptakan hasil yang paling kita inginkan, dan menciptakan suatu lingkungan organisasi yang mendorong semua anggotanya mengembangkan diri mereka sendiri kearah sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan yang mereka pilih.

Dalam mengatasi prevalensi anemia yang tinggi, keahlian pribadi (personal mastery) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan disegala bidang yaitu pendekatan Button Up (arus bawah). Peran sektor kesehatan adalah agar keluarga mau berinnovasi dan investasi untuk menjaga agar keluarganya tetap sehat. Pendekatan ini memiliki daya ungkit yang besar untuk mengatasi masalah anemia pada ibu hamil. Keunggulannya adalah berbasis pada potensi masyarakat yang akan menuntun mereka mengatasi sendiri masalahnya tanpa menimbulkan ketergantungan pada pihak lain termasuk pemerintah. Dengan pendekatan Top Down Approach yang selama ini berjalan perbaikan gizi masyarakat tidak membawa hasil yang nyata. Bukti paling dekat dengan kita saat ini adalah jatuhnya nilai tukar rupiah tahun 1997 menyebabkan munculnya gizi buruk dengan prevalensi yang cukup tinggi.

Melalui pendekatan ini pembelajaran individual diubah menjadi pembelajaran tim (team learning). Dengan pendekatan pembelajaran tidak ada perasaan digurui dan menggurui, semua merasa senang, saling terbuka, saling memberi dan menerima. Pandangan yang semula berorientasi pada sumber daya material (material resources) menjadi pandangan sumber daya non material (non material resources). Sehingga untuk membagun keluarga yang sadar gizi kita tidak perlu menunggu keadaan ekonomi masyarakat membaik. Dengan penuh optimisme, kita hidupkan posyandu dengan pendekatan pembelajaran. Posyandu akan menghasilkan kader penggerak posyandu dengan komitmen tinggi. Posyandu akan banyak memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia yang secara bersama ingin mencapai tujuan pembangunan millenium ( millenium development goals) di tahun 2015. (H. Kuntoro,Yayasan Indonesia untuk Pengembangan Manusia/Lembaga Indonesia untuk Pengembangan Manusia ). (H.NUR)

Personal mastery – kita harus belajar, terbuka satu sama lain dan saling mendengarkan, Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang berkembang pesat saat ini membutuhkan sumber daya yang berkualitas. Yang dapat mendukung proses pembangunan kesehatan yang berkelanjutan. Kemajuan dalam iptek adalah ciri berkembangnya suatu bangsa dalam menciptakan masyarakat madani. Bangsa yang sehat dan kuat adalah bangsa yang menciptakan kondisi belajar kearah perubahan yang lebih baik.

Dalam menangani tingginya prevalensi ibu hamil yang anemia diperlukan SDM yang memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk berkontribusi dalam mewujudkan keluarga sehat bebas anemia. Kompetensi mengandung arti keahlian yang dimiliki individu dari proses pembelajaran sepanjang hayat yang terbangun dari proses pembelajaran seumur hidup dan diaplikasikan di dalam keluarga maupun masyarakat. Yaitu dengan mengenalkan konsep Personal Mastery yang artinya penguasaan diri terhadap kompetensi yang dimilikinya dan mempelajari hal-hal diluar dirinya sehingga keseimbangan antara kompetensi personal dan kompetensi masyarakat dapat terintegrasi menajadi kesatuan yang saling mendukung.
Personal Mastery adalah kata yang mengandung banyak arti luas, tetapi maksudnya adalah mengembalikan rasa percaya diri kepada masyarakat untuk mau merubah diri kearah lebih baik dan tidak mau terpengaruh kepada kondisi saat ini. Personal Mastery terbangun dari tiga pilar yang menjadi bangunannya yaitu, Kompetensi, Pembelajar dan Kecerdasan. Tiga komponen ini seberanya juga ditopang oleh pilar-pilar di bawahnya yaitu. Kompetensi (Pribadi, Keilmuan, Keluarga, Lingkungan), Pembelajar (Disiplin, mau, mampu, kontribusi, insight) dan Kecerdasan (Spiritual, Emosianal, Intelektual). Apabila setiap orang sudah memahami peran dan fungsi dirinya di masyarakat, mereka akan mampu membangun keluarganya, masyarakat dan bahkan dalam pembangunan bangsa ini.

D. MODEL MENTAL (MENTAL MODEL) DALAM MENGATASI PREVALENSI ANEMIA YANG TINGGI PADA IBU HAMIL

Mental Model Maslow yang selama ini kita pakai bertahun-tahun, yaitu bahwa orang mencari pemuasan kebutuhan biologis dan keamanan, sebelum mencari kebutuhan aktualisasi diri, ternyata justru tidak bisa dipakai untuk memecahkan masalah mendasar negara-negara berkembang. Adalah lebih sesuai dengan fitrah manusia, untuk mengupayakan kebutuhan rohani ketimbang kebutuhan biologis dan keamanan. Bahkan pemuasan kebutuhan biologis dan keamanan akan dapat diselenggarakan lebih baik jika kebutuhan yang bersifat spiritual tercapai. Dalam term kesehatan, kita perlu membangun jalan untuk sehat sosial, agar jalan untuk sehat fisik bisa efektif.

Mengapa menambah sumber daya dalam masalah kesehatan kita tidak menimbulkan perbaikan yang memadai? Pertanyaan ini, sudah diajukan oleh Bank Dunia pada tahun 1993 (World Bank 1993). Artinya, mental model yang selama ini kita pakai mungkin sudah saatnya kita tinggalkan. To learn we have to unlearn.

Asumsi yang umum dipegang orang adalah masalah yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia karena kekurangan sumber daya material, sehingga penyelesaiannya adalah dengan menambahnya. Asumsi ini benar dalam artian akibat, tetapi salah dalam artian sebab. Fogel, pemegang hadiah Nobel untuk Ekonomi tahun 1993, dengan jelas mengatakan bahwa masalah yang mendasar di negara berkembang bukanlah kekurangan sumber daya material, namun adalah kekurangan sumber daya non material, dalam bentuk solidaritas, disiplin dan ketekunan.

Dalam skala makro, hal-hal inilah yang menyebabkan kita, meskipun sudah mengolah sumber daya material seperti hutan, dan tambang dalam jumlah yang fantastis, meskipun meminjam dana yang besar untuk pembangunan, namun tetapi imbasnya pada kesejahteraan masyarakat, termasuk status kesehatan tidak memadai. Dalam konteks kesehatan, ini menjelaskan bahwa 250 ribu posyandu yang kita bangun belum banyak dampaknya dalam perbaikan gizi masyarakat. Sri Palupi, direktur Institute for Economic.

Jika kemudian variabel ekonomi menjadi mata rantai paling lemah menurut analisis Unicef (1998) dan pemerintah pun belum mengetahui adanya intervensi yang lebih baik selain dari pertumbuhan ekonomi dan memerangi kemiskinan dalam mengatasi anemia pada ibu hamil, lalu apakah kita dapat keluar dari masalah ini dengan segera? Ada satu hypotesis yang menarik untuk kita sandingkan dengan modelnya Unicef yaitu bahwa perbaikan status gizi dapat saja dilakukan tanpa harus menunggu variabel ekonomi yang mapan dan meskipun masalah gizi terkait dengan masalah biomedik tetapi pengentasannya tidak hanya memerlukan ilmu-ilmu biomedik saja. Sangat diperlukan analisis yang sistematis dan terukur dari aspek manajemen pengentasan kasus kurang gizi (Soekirman, 2001). Contohnya pada bentuk intervensi balita gizi buruk dengan basis potensi sumber daya keluarga (masyarakat) adalah belajar dari kasus deviasi positif (Positif Deviance). Kasus penyimpangan positif secara rinci dijelaskan oleh Zeitlin at.al (1990) dalam sebuah buku yang berjudul” Positive Deviance in Child Nutrition”. Dari sini lahirlah Metode Hearth yang telah berhasil di beberapa negara seperti Vietnam, Haiti, Bangladesh, Thailand. Metode Hearth ini membuat konfilasi antara konseling gizi keluarga dan pemberian makan anak dengan menggunakan dapur bersama. Keunggulan metode Hearth adalah ibu yang memiliki anak gizi buruk belajar mengasuh anak dari rekan sejawat yang anaknya tidak kurang gizi. Potensi sumber daya keluarga adalah andalan utama dan sheering pengalamanan adalah proses interaksi yang dipersyaratkan dalam metode ini. Pada Bulan Desember 2004 Plan Interational dan Media Gizi Makasar tengah mengujicoba model Tungku (Hearth) di Kota Makasar, Jeneponto dan Takalar telah melatih sebanyak 22 orang kader Pendamping Model hearth di Tiga Kota. Hasil uji coba ini cukup menggembirakan, karena tanpa bantuan makanan tambahan dari pihak lain, kenaikan berat badan anak dapat dicapai hanya dalam waktu 12 hari.

Namun meluasnya masalah gizi buruk awal tahun 1998 kemudian mengilhami pemerintah untuk melakukan langkah pengamanan yang disebut Social Safety Mate atau yang dikenal dengan jaring pengaman sosial. Dalam bidang kesehatan dikenal Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai bagian dari Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK). PMT-JPS BK kemudian menjadi idola tetapi masih menyisakan masalah besar akibat mewariskan karakter ketergantungan yang hebat, bukan saja pada level petugas kesehatan tetapi juga pada level masyarakat penerima bantuan.

Fakta ini membuat clue bagi kita bahwa masih ada faktor yang harus kita cari selain variabel ekonomi sebagaimana yang disebutkan dalam Model Unicef (1997) untuk mengatasi masalah gizi. Dalam sebuah Rakor Pemantauan dan Evaluasi Kebijakan dan Strategi Perbaikan Gizi, Kementerian Kesra RI di Makassar, 21 Mei 2004 seorang guru besar Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin (A Razak Thaha ) menyebutkan bahwa untuk melakukan hal yang tepat diperlukan cara yang benar. Selanjutnya beliau menjelaskan ada empat azas yang harus diikuti untuk menangani masalah dengan cerdas yaitu (1) Tepat masalah (2) Tepat akar penyebab (3) Tepat intervensi (4) Tepat implementasi. Pada bagian akhir paparan beliau dijelaskan bahwa hambatan kunci tidak signifikannya hasil yang diperoleh dalam perbaikan gizi adalah ”mental model Project Oriented”.

Selain itu, ke depan, dalam pembinaan kader penggerak posyandu perlu dilakukan upaya dengan pendekatan pembelajaran. Dengan pendekatan ini model mental (mental model) kader posyandu yang negatif seperti tertutup, bermalas-malasan, tunggu perintah, merasa kurang dalam hal materi diubah menjadi mental model komitmen tinggi dalam berpartisipasi memerangi masalah kesehatan terutama anemia pada ibu hamil.

E. STRATEGI-STRATEGI UNTUK MEMBANGUN VISI BERSAMA (SHARE VISION)

Visi bersama adalah suatu gambaran umum dari organisasi dan tindakan (kegiatan) organisasi yang mengikat orang secara bersama-sama dari keseluruhan identifikasi dan perasaan yang dituju. Dengan visi bersama organisasi dapat membangun suatu rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan membuat gambaran-gambaran bersama tentang masa depan yang coba diciptakan, dan prinsip-prinsip serta praktek-praktek penuntun yang melaluinya kita harapkan untuk bisa mencapai masa depan.

Dengan pendekatan ini visi pribadi yang dominan diubah menjadi visi bersama (shared vision) dan cara berpikir yang sektoral diubah menjadi cara berfikir sistem (system thinking) yang menumbuhkan ciri kebaruan (emergent property) yang kualitasnya jauh lebih baik dari elemen pendukungnya.

Kendala pada pelaksanaan program kesehatan dalam mengatasi prevalensi anemia yang tinggi pada ibu hamil adalah kurangnya kerjasama lintas program/lintas sektoral sehingga dukungan lintas program/lintas sektoral sangat terbatas. Karena kita dididik secara bertahun-tahun menggunakan paradigma sektoral, sehingga kita jadi ahli sektoral, dan bekerja juga sektoral. Padahal masalah besar yang kita hadapi sekarang selalu lintas disiplin, harus harus didekati dengan paradigma holistik (Heriyanto, 2003). Masalah kesehatan akan kita selesaikan dengan membangun jaringan pelayanan kesehatan yang memadai, mulai dari RS, puskesmas, puskesmas pembantu, dan poskesdes. Dokter, perawat, obat di persiapkan secukupnya. Untuk keluarga miskin, pemerintah daerah membantu dengan menyediakan Surat Keterangan Tidak Mampu, dan pemerintah pusat dengan Askeskin. Jika keluarga berdatangan untuk berobat ke fasilitas pelayanan dan mendapat pelayanan baik, mendapat obat yang murah, banyak orang merasa tugas kesehatan telah ditunaikan dengan baik.

Kenyataannya masalah tingginya anemia pada ibu hamil adalah merupakan muara dari masalah yang ada di lintas sektoral. Sehingga dalam penanggulangannya tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan saja, namun perlu dibangun visi bersama di semua lintas program/lintas sektoral. Dan mendelegasikan kewenangan pelayanan ke tenaga kesehatan yang lebih banyak dilapangan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang menyeluruh, tetapi juga menyerahkan tanggung jawab usaha untuk menjadi sehat itu ke keluarga. Jika kita menyerahkan produksi pertanian ke petani, maka logikanya kita menyerahkan produksi kesehatan ke keluarga, bukan ke tenaga kesehatan, apalagi dokter. Keluargalah, bukan tenaga kesehatan yang mau menjaga anggota keluarganya yg sakit, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Keluargalah—dan bukan dokter—yang mau menghabiskan tabungan, menjual atau menggadaikan aset yang ada, agar anggota keluarganya kembali sehat. Dengan adanya visi bersama antara pemerintah, lintas program, lintas sektoral, lembaga swdaya masyarakat dan masyarakat maka keinginan untuk menurunkan prevalensi anemia pada ibu hamil dapat terwujud.

F. TEORI HAMBATAN (THEORY OF CONTRAINS)

Saat ini kita tidak harus disibuk mencari siapa yang salah, akan tetapi lebih baik kita fokus pada solusi. Jika kita telusuri sejarah penanggulangan anemia pada ibu hamil di Indonesia. Penanggulangan anemia pada ibu hamil lebih difokuskan pada intervensi Pemberian Tablet Fe selama 90 hari kepada semua ibu hamil yang dikucurkan pemerintah selama bertahun-tahun dengan cara yang sama bahkan makin lama dengan anggaran yang makin besar, dan masalah gizi tetap saja muncul (Susenas 1989-2005). Sehingga, pemberian Tablet Fe ini tidak dapat menjadi pilihan utama. Hingga saat ini konsep pemberdayaan keluarga dalam mengatasi anemia pada ibu hamil masih jarang dilakukan, karena sulitnya untuk merumuskan bentuk intervensi yang melibatkan aspek income generating keluarga. Terlebih jika kemudian disimpulkan bahwa penyebab anemia pada ibu hamil adalah sindroma kemiskinan.

Theory Of Constraint (TOC) yang dikembangkan Eliyahu Goldratt menuntun kita untuk mengatasi masalah mulai dari rantai yang paling lemah, dan setiap saat hanya ada satu rantai yang paling lemah lalu kemudian kita akan keluar dengan hasil yang cukup signifikan mengatasi masalah (Poli, WIM , 2000)
Jika kemudian variabel ekonomi menjadi mata rantai paling lemah menurut analisis Unicef (1998) dan pemerintah tidak mengetahui adanya intervensi yang lebih baik selain dari pertumbuhan ekonomi dan memerangi kemiskinan dalam mengatasi anemia pada ibu hamil, lalu apakah kita dapat keluar dari masalah ini dengan segera? Ada satu hypotesis yang menarik untuk kita sandingkan dengan modelnya Unicef yaitu bahwa perbaikan status gizi dapat saja dilakukan tanpa harus menunggu variabel ekonomi yang mapan dan meskipun masalah gizi terkait dengan masalah biomedik tetapi pengentasannya tidak hanya memerlukan ilmu-ilmu biomedik saja. Sangat diperlukan analisis yang sistematis dan terukur dari aspek manajemen pengentasan kasus kurang gizi (Soekirman, 2001).

Menelusuri kultur masyarakat sebagai potensi dalam memecahkan masalah akhirnya merupakan satu titik yang tidak salah kalau kita tekuni, khususnya dalam upaya penanganan anemia pada ibu hamil. Mengapa? Jawabnya sederhana yang bermasalah itu adalah masyarakat dengan demikian gunakan potensi kultur masyarakat untuk mengatasi sendiri masalahnya. Asumsinya adalah rantai paling lemah ada dimasyarakat. Untuk membenahi aspek manajerial dari sisi pelayanan kesehatan harus diperbaiki sisi provider (petugas) (ingat mental model project oriented).

Berikut ini saya mencoba membuat Root Cause Analysis untuk mengetahui akar permasalahan tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil :

BAB IV KESIMPULAN DAN ALTERNATIF SOLUSI

A. KESIMPULAN

1. Berdasarkan current reality tree, ditemukan akar masalah dari tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil adalah kurangnya promosi kesehatan yang bahasanya mudah dimengerti untuk menggerakkan partisipasi masyarakat.

2. Masalah mendasar pada masalah tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil adalah bukanlah kekurangan sumber daya material melainkan kekurangan sumber daya non material dalam bentuk solideritas, disiplin dan ketekunan.

3. Anemia ibu hamil bukanlah kejadian yang seketika, melainkan adalah akibat selama bertahun-tahun kita melalaikan program dalam banyak hal dan tidak mampu untuk mengusahakan makanan yang cukup gizi untuk ibu hamil. Efek program kesehatan bagi masyarakat masih kecil karena kurangnya kerja sama lintas sektoral dan monitoring program kesehatan. Serta fasilitas pelayanan kesehatan yang belum dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama masyarakat di daerah terpencil.

4. Pola pikir (mental model) kebijakan kesehatan di Indonesia masih berorientasi pada kuratif. Paradigma sehat masih belum mengakar, masih hanya sebatas wacana.

5. Mental model tenaga kesehatan dalam menjalankan program kesehatan adalah project oriented.

6. Mental model menurut UNICEF maupun pemerintah bahwa akar permasalahan gizi adalah ekonomi dan kemiskinan sehingga masalah gizi akan membaik seiring dengan peningkatan ekonomi dan menurunnya kemiskinan.

7. Perlu sosialisasi lebih gencar mengenai pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, keluarga berencana dan tata laksana gizi pada daur kehidupan kepada masyarakat.

8. Adanya climate change menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada menurunnya hasil pertanian terutama beras. Sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras, bahkan di beberapa daerah yang tadinya mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok beralih ke nasi. Sehingga memungkinkan terjadinya krisis bahan makanan pokok yaitu beras.

B. ALTERNATIF SOLUSI

1. Alternatif solusi yang akan dilakukan dalam menangani kurangnya promosi kesehatan yang bahasanya mudah dimengerti akan diperbaiki (what) kurangnya promosi kesehatan yang bahasanya mudah dimengerti di (where) Indonesia

2. Menghidupkan posyandu menuju desa siaga, sehingga dapat terwujud keluarga sehat dengan kerjasama lintas program dan lintas sektoral yang mempunyai kesatuan visi (share vision) yaitu Indonesia Sehat dengan keluarga mandiri, solideritas, kerjasma dan kesetiakawanan sosial. Tenaga kesehatan aktif mendatangi ibu hamil yang menderita anemia terutama pada golongan masyarakat yang belum dapat menjangkau fasilitas kesehatan karena kendala biaya, jarak dan transportasi. Tersedianya bidan di desa dan kesinambungan adanya bidan di daerah terpencil. Bila perlu diberikan insentif yang memadai untuk bidan desa.

3. Sekolah dan guru berperan penting dalam upaya penanggulangan anemia karena siswa lebih patuh kepada guru. Pengelola sekolah memberikan tablet zat besi 2 kali seminggu selama tiga bulanuntuk siswa yang anemia. Selain itu diberikan makanan bergizi di sekolah secara swadaya. Uapay kesehatan berbasis sekolah juga bisa dilakukan melalui penyuluhan makanan sehat dan seimbang yang melibatkan orang tua siswa sehingga mereka bisa paham dan mau membuatkan atau memberikan makanan sehat bagi putra putrinya di rumah. Pada hari di mana ada pelajaran olah raga, anak membawa makanannya masing-masing dari rumah. Setelah berolah raga dan mencuci tangan, mereka bisa saling bertukar makanan dengan teman-temannya yang lain. Ini untuk mengajarkan anak agar mau makan makanan yang bercariasi, seperti tahu, tempe, ikan dan sayuran.

4. Merubah mental model kuratif menjadi berorientasi pada preventif dan promotif dalam mengatasi tingginya prevalensi anmeia pada ibu hamil.

5. Merubah mental model tenaga kesehatan yang project oriented menjadi output oriented pada keberhasilan program kesehatan yang memberikan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dengan memaksimalkan peran posyandu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Di, posyandu ibu juga diberi pengetahuan tentang anemia dan dampaknya serta mengajarkan gaya hidup sehat, sanitasi lingkungan dan penanganan diare pada balita, serta perlunya gizi yang adekuat pada bayi 0 – 2 tahun yang merupakan golden age perkembangan otak sehingga menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas.

6. Merubah mental model yang menyatakan akar masalah gizi adalah ekonomi dan kemiskinan karena kita harus belajar dari negara berkembang yang secara ekonomis rendah tetapi mempunyai prevalensi malnutrisi yang lebih rendah dibandingkan dengan negara kaya lainnya. Usaha untuk mencegah gizi buruk tidak harus menunggu berhasilnya pembangunan ekonomi sampai masalah kemiskinan dituntaskan. Pembangunan ekonomi rakyat dan menanggulangi kemiskinan memakan waktu lama. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa diperlukan waktu lebih dari 20 tahun untuk mengurangi penduduk miskin dari 40% (1976) menjadi 11% (1996). Data empirik dari dunia menunjukkan bahwa program perbaikan gizi dapat dilakukan tanpa harus menunggu rakyat makmur, tetapi perhatian pada golongan yang yang beresiko kekurangan gizi akan membantu mengurangi peliknya masalah kemiskinan. Dan diharapkan program perbaikan gizi menjadi bagian yang eksplisitdari program pembangunanuntuk memakmurkan rakyat .

7. Pada pengambil kebijakan di bidang kesehatan, perlu dikembangan lagi program KB, karena jumlah persalinan yang banyak berdampak pada tingginya angka kejadian anemia pada ibu hamil.Pada pengelola program kesehatan khususnya program ibu dan anak, perlu strategi lain dalam merencanakan program penyuluhan kesehatan umumnya, khususnya tentang pentingnya kesehatan reproduksi dan gizi bagi ibu hamil.

8. Diversifikasi pangan mulai diterapkan, untuk mengurangi ketergantungan masyarakat kita terhadap konsumsi beras sehingga masyarakat tetap survive dalam kondisi diperkirakan akan adanya krisis pangan karena perubahan iklim (global warming). Banyak bahan makanan pokok selain beras di indonesia yang dapat diolah secara inovatif menjadi bahan makanan pokok. Contohnya ubi dijadikan tepung untuk bahan mie atau bihun.

9. Pemerintah dalam menjalankan program kesehatan dalam mengatasi tingginya prevalensi anemia apad ibu hamil dapat menjalin kemitraan dengan lembaga swdaya masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Peter M. Senge, 2002, The Fifth Discipline Fieldbook.

2. Depkes RI, 2008, Profil Kesehatan Indonesia

3. http://www.bppsdmk.depkes.go.id. Faktor Resiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil. Akses 17 September 2007.2.

4. http://ridwanamiruddin.wordpress.com. Studi Kasus Kontrol Faktor Biomedis Terhadap Kejadian Anemia Ibu Hamil Di Puskesmas Bantimurung. Akses 17 September 2007.

5. Arisman. 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan : Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta : EGC.

6. http://library.usu.ac.id. Anemia Defisiensi Besi Pada Wanita Hamil Di Beberapa Praktek Bidan Swasta Dalam Kota Madya Medan. Akses 17 September 2007.5.

7. http://bankdata.depkes.go.id. Profil Kesehatan Indonesia : Pencapaian Indonesia Sehat di Tahun 2001. Akses 23 September 2007.6. Atmarita, Tatang S. Fallah. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII.7.

8. http://www.skripsi-tesis.com. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Rendahnya Cakupan Fe Ibu Hamil di Kabupaten Bengkulu Selatan Propinsi Bengkulu Tahun 2003. Akses 17 September 2007.

9. Junadi, Purnawan: Jalan Cerdas Menuju Sehat, FKMUI 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar